Potensi Ekstrak Daun Kelor sebagai Zat Pengatur Tumbuh Alami Berdasarkan Uji Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan
DOI:
https://doi.org/10.34145/agriekstensia.v25i1.3966Keywords:
ZPT Alami, Daun Kelor, Uji Fitokimia, Aktivitas AntioksidanAbstract
Penggunaan zat pengatur tumbuh (ZPT) sintetis dalam budidaya tanaman dapat menimbulkan risiko terhadap lingkungan, sehingga diperlukan pengembangan ZPT alami sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan. Daun kelor (Moringa oleifera) mengandung berbagai fitohormon dan senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan sebagai ZPT alami. Penelitian ini dilakukan untuk mengkarakterisasi ZPT dari ekstrak daun kelor berdasarkan uji fitokimia dan aktivitas antioksidan. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96% hingga diperoleh ekstrak berbentuk kental. Karakterisasi meliputi penentuan rendemen, kadar air, pH, uji fitokimia (fenolik, flavonoid, dan tanin), serta pengujian aktivitas antioksidan dilakukan dengan metode DPPH, dan hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen ekstrak yang diperoleh sebesar 10,5%, kadar air 18%, dan pH 4,58 yang tergolong asam lemah. Uji fitokimia menunjukkan hasil positif terhadap senyawa fenolik, flavonoid serta tanin. Hasil aktivitas antioksidan dari ekstrak daun kelor menunjukkan nilai IC₅₀ sebesar 149,98 ppm yang masuk dalam kategori antioksidan sedang. Hasil tersebut menyatakan bahwa ekstrak daun kelor berpotensi digunakan sebagai ZPT alami yang stabil dan memiliki aktivitas biologis, sehingga berpeluang dikembangkan lebih lanjut dalam mendukung pertumbuhan tanaman secara berkelanjutan.
Downloads
References
Amalia, R., & Anggarani, M. A. (2022). Uji Fitokimia Senyawa Metabolit Sekunder pada Ekstrak Tanaman. Jurnal Kimia Terapan, 5(2), 45–52.
Anwar, F., Latif, S., Ashraf, M., & Gilani, A. H. (2007). Moringa Oleifera: A Food Plant with Multiple Medicinal Uses. Phytotherapy Research, 21(1), 17–25. https://doi.org/10.1002/ptr.2023.
Azzahra, N., et al. (2025). Pengaruh Jenis Pelarut Terhadap Rendemen dan Kandungan Bioaktif Ekstrak Tanaman. Jurnal Kimia Modern, 10(1), 1–10.
Departemen Kesehatan RI. (2000). Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan Obat. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Fadilah, N., & Anggarani, M. A. (2023). Penentuan Aktivitas Antioksidan Ekstrak Tanaman dengan Metode DPPH. Jurnal Kimia dan Aplikasi, 7(1), 33–41.
Harris, D. C. (2015). Quantitative Chemical Analysis (9th ed.). W.H. Freeman and Company.
Harborne, J. B. (1987). Metode Fitokimia: Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan. ITB Press.
Molyneux, P. (2004). The Use of the Stable Free Radical DPPH for Estimating Antioxidant Activity. Songklanakarin Journal of Science and Technology, 26(2), 211–219.
Pawarti, N. (2023). Efisiensi Ekstraksi Senyawa Bioaktif Tanaman. Jurnal Farmasi Indonesia, 12(1), 55–63.
Prior, R. L., Wu, X., & Schaich, K. (2005). Standardized Methods for the Determination of Antioxidant Capacity. Journal of Agricultural and Food Chemistry, 53(10), 4290–4302. https://doi.org/10.1021/jf0502698.
Rice-Evans, C. A., Miller, N. J., & Paganga, G. (1997). Antioxidant Properties of Phenolic Compounds. Trends in Plant Science, 2(4), 152–159.
Skoog, D. A., West, D. M., Holler, F. J., & Crouch, S. R. (2014). Fundamentals of Analytical Chemistry (9th ed.). Belmont: Brooks/Cole.
Taiz, L., Zeiger, E., Møller, I. M., & Murphy, A. (2022). Plant Physiology and Development (7th ed.). Sunderland: Sinauer Associates.
Voigt, R. (1995). Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gadjah Mada University Press.
Downloads
Published
How to Cite
Issue
Section
Citation Check
License
Copyright (c) 2026 Putri Wulandari

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.








